Untuk meningkatkan pelayanan dan juga mendekatkan diri kepada konsumen dalam pembelian sepeda motor baru Honda, FIF meluncurkan Mobil Display FIF atau yang disebut dengan “MoDiF” yang diperuntukkan bagi Dealer sepeda motor baru Honda FIF. Peluncuran tersebut diresmikan oleh Suhartono, Presiden Direktur FIF, dan pembukaan oleh Hendry Christian Wong, Direktur Pemasaran FIF, serta dihadiri oleh lebih dari 40 perwakilan Dealer Honda di Menara FIF, Jakarta Selatan.
Hendry Christian Wong mengatakan, “Program “MoDiF” ini bertujuan untuk meningkatkan Pembiayaan New Motorcycle (NMC) FIF dengan mempermudah Dealer-Dealer NMC vFIF mendapatkan Mobil Display yang berkualitas dengan harga terjangkau. Mobil akan digunakan oleh Dealer untuk jemput bola ke konsumen yang jauh dari area Dealer agar konsumen dapat melihat dan melakukan pembiayaan sepeda motor Honda dimana pun, kapan pun”.
FIF meluncurkan tiga varian Mobil Display, yaitu tipe S (Grand Max) yang dapat memuat 1 sepeda motor, Tipe M (Toyota Hi Lux) yang dapat memuat 2 sepeda motor, dan Tipe L (Isuzu Elf) yang dapat memuat 3 sepeda motor. Dalam kurun waktu 3 tahun, Dealer yang memenuhi ketentuan booking akan memiliki Mobil Display tersebut sepenuhnya. Mobil Display tersebut juga sudah ditanggung asuransi All Risk oleh FIF.
Pada semester I tahun 2011, FIF berhasil membukukan pembiayaan senilai Rp 7,56 Triliun dan membiayai 612.125 unit. Sedangkan pada paruh semester 2010, FIF membiayai 522.605 unit atau senilai Rp 6,4 Triliun. “Kenaikan booking ini tidak terlepas dari peran Dealer FIF, untuk itu FIF membutuhkan kerjasama yang solid dengan rekan – rekan Dealer. Salah satu bentuk kerjasama yang potensial antara lain dengan Program Mobil Display FIF, dengan target 100 unit Mobil Display sepanjang tahun 2011 ini”, ujar Hendry
Untuk kedepannya FIF berharap kerjasama ini dapat tumbuh dan berkembang lebih baik lagi, serta memberikan manfaat lebih bagi Dealer dan khususnya bagi konsumen sepeda motor Honda. Sumber :http://www.fifkredit.com
Sejarah perusahaan pembiaayaan indonesia
21.18 |
Industri pembiayaan (multifinance) sesungguhnya belumlah terlalu lama di Indonesia, terutama bila dibandingkan dengan di negara-negara maju. Dari beberapa sumber, diketahui industri ini mulai tumbuh di Indonesia pada tahun 1974 yang didasarkan pada Surat Keputusan Bersama (SKB) tiga menteri, yaitu Menteri Keuangan, Menteri Perindustrian, dan Menteri Perdagangan.
Setahun setelah dikeluarkannya SKB tersebut, berdirilah PT Pembangunan Armada Niaga Nasional (PANN) pada tahun 1975. Perusahaan tersebut kemudian mengganti namanya menjadi PT (Persero) PANN Multi Finance. Melalui Keputusan Presiden (Keppres) No.61/1988, yang ditindaklanjuti dengan SK Menteri Keuangan No.1251/KMK.013/1988, pemerintah membuka lebih luas lagi bagi bisnis pembiayaan, dengan cakupan kegiatan meliputi leasing, factoring, consumer finance, modal ventura dan kartu kredit.
Sebagai sesama industri keuangan, perkembangan industri pembiayaan relatif tertinggal dibandingkan dengan yang lain, perbankan, misalnya. Terlebih lagi bila dibandingkan dengan perbankan pasca Pakto 1988. Deregulasi yang digulirkan pemerintah di bidang perbankan telah membuahkan banyak sekali bank, walaupun dalam skala gurem. Tetapi banyak kalangan menuding, justru Pakto 88 inilah menjadi 64 biang keladi suramnya industri perbankan di kemudian hari. Puncaknya, terjadi pada tahun 1996 ketika pemerintah melikuidasi 16 bank. Langkah itu ternyata masih diikuti dengan dimasukkannya beberapa bank lain dalam perawatan Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN).
Meski demikian, perusahaan pembiayaan juga mampu berkembang cukup mengesankan. Hingga saat ini leasing di Indonesia telah ikut berkiprah dalam pembiayaan perusahaan. Jenis barang yang dibiayai pun terus meningkat. Jika sebelumnya hanya terfokus pada pembiayaan transportasi, kini berkembang pada keperluan kantor, manufaktur, konstruksi dan pertanian. Hal ini mengindikasikan industri pembiayaan kian dikenal pelaku usaha nasional.
Ada beberapa hal menarik jika kita mencermati konsentrasi dan perkembangan perusahaan pembiayaan. Pada era 1989, misalnya, industri ini di Indonesia cenderung berupaya memperbesar aset. Perburuan aset tersebut diantaranya disebabkan tantangan perekonomian menuntut mereka tampil lebih besar, sehat dan kuat. Perusahaan yang tidak beranjak dari skala semula, tampak terguncang-guncang dana akhirnya tutup sama sekali.
Dengan aset dan skala usaha yang besar, muncul anggapan perusahaan lebih andal dibandingkan yang lain. Bagi yang kapasitasnya memang terbatas, mereka berupaya agar tetap tampil megah dan gagah. Maka, dimulailah saling lirik dan penjajakan di antara sesamanya. Skenario selanjutnya, banyak perusahaan leasing yang melakukan penggabungan menjadi satu grup. Tampaknya, langkah ini membuahkan hasil positif. Selain modal dan aset menggelembung, kredibilitas dan penguasaan pasar pun ikut terdongkrak.
Namun gairah menggelembungkan aset tersebut berangsur-angsur mulai pudar. Karena pada tahun berikutnya (1990), industri pembiayaan mulai kembali pada prinsip dasar ekonomi. Mereka lebih mengutamakan keuntungan yang sebesar- besarnya. Sebenarnya, berubahnya orientasi ini dipicu oleh kian sengitnya persaingan di industri pembiayaan. Akibatnya, kehati- hatian menjadi agak terabaikan. Indikasinya, persyaratan untuk memperoleh sewa guna usaha menjadi semakin longgar. Bahkan, kabarnya di Bengkulu, orang bisa mendapatkan sewa guna usaha hanya dengan menyerahkan selembar kartu tanda penduduk (KTP).
Pada tahun 1991, kembali terjadi perubahan besar-besaran pada perusahaan pembiayaan. Seiring dengan kebijakan uang ketat (TMP = tight money policy) – yang lebih dikenal dengan Gebrakan Sumarlin I dan II – suku bunga pun ikut meroket naik. Akibatnya, banyak kredit yang sudah disetujui terpaksa ditunda pencairannya.
Dari sisi permodalan, TMP membuat perusahaan pembiayaan seperti kehabisan darah. Aliran dana menjadi macet. Kalaupun ada, harganya tinggi sekali. Itulah sebabnya banyak di antara mereka yang menggabungkan usahanya. Dengan bergabung, mereka lebih mudah dalam memperoleh kredit, termasuk dari luar negeri.
Langganan:
Postingan (Atom)








